Catatan Antropologi Hanna Kireina bersama Ibu Serepina Tiur Maida Pert-2

 

Fase Perkembangan, Perbedaan dan Cabang Antropologi

Hanna Kireina Eclesia L/203300050026/Hukum P2K

Univ Mpu Tantular Kedoya

Ibu Serepina Tiur Maida (Dosen Hukum Antropologi)

Pertemuan ke-2

 

Haloo semua balik lagi dicatatan kedua saya yg masih membahas tentang Antropologi.

Pada pertemuan sesi ke dua bersama Ibu Serepina kami mendalami fase perkembangan, perbedaan dan cabang Antropologi, seru sekali saya sendiri sangat menikmati kelas saat itu bahkan saat membahas tentang materi dipertemuan pertama saya ikut semangat menjelaskan sedikit tentang Definisi Evolusi.

 

 

Fase perkembangan Antropologi terbagi menjadi empat bagian:

 

1.Fase pertama (sebelum 1800)

Selama empat abad berselang. Dimulai sejak abad 15 hingga permulaan abad ke 16, bangsa Eropa menularkan pengaruh besar terhadap berbagai suku, bangsa, masyarakat hingga budaya setempat. Mereka melakukan penjajahan di tiga benua, afrika, asia dan amerika. Ketika bangsa Eropa menemukan suatu hal yang aneh, suatu hal-hal yang baru di tempat jajahannya. Mereka mencurahkan pengalaman-pengalaman yang mereka dapat ke sebuah tulisan. Kumpulan-kumpulan tulisan itu disebut Etnographi. Terdapat beberapa pendapat dalam segi sudut pandang seseorang dalam memaknainya. Mulai dari beranggapan mereka (bangsa yang dijajah) adalah makhluk liar hingga sebutan-cebutan keturunan iblis dilontarkan. Ada juga yang mencoba mengumpulkan barang-barang antik lalu mengumpulkannya untuk diperlihatkan ke semua orang.

 

2.Fase kedua (sekitar abad ke 19)

Pada pertengahan abad ke 19 ini, antropologi lebih condong digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat-tingkat budaya dengan meneliti sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan di muka bumi. Orang Eropa menganggap kebudayaan bangsa-bangsa diluar Eropa adalah bangsa yang kuno. Dengan mempelajarinya sama halnya mereka mencari tahu sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Karangan-karangan etnografi berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat. Maknanya masyarakat dan kebudayaan manusia berevolusi dengan sangat lambat hingga memerlukan waktu yang sangat lama.

 

3.Fase ketiga (permualaan abad ke 20)

Pada permulaan abad ke-20, bahan-bahan etnografi lebih difahami lagi demi mengetahui seluk-beluk suatu bangsa, mempelajari kelemahan-kelemahannya lalu menaklukannya. Masa ini memperlihatkan bahwa disiplin ilmu Antropologi berperan aktif sebagai ilmu terapan. Tujuannya hanya untuk mengetahui pengertian masyarakat masa kini yang kompleks dan berfungsi untuk menundukkan bangsa-bangsa lain seperti benua Amerika, Asia dan juga Afrika yang sudah ada dalam genggaman Eropa barat.

 

4.Fase keempat (sesudah kira-kira 1930)

Pada masa ini perkembangan antropologi bertambah pesat dan luas. Bertambahnya pengetahuan yang lebih teliti dan ketajaman dalam metode ilmiahnya sangat mengesankan. Adanya perkembangan yang pesat ini mengakibatkan hilangnya sedikit demi sedikit masyarakat primitif dan kebudayaan-kebudayan kuno. Antropologi dimasa ini berperan dalam dua hal yakni, dalam bidang akademik dan juga tujuan praktis. Tujuan dalam bidang akademiknya berusaha untuk mencapai pengertian manusia dengan mempelajari keragaman bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya. Sedangkan tujuan praktisnya adalah mempelajari, memahami dan membangun masayarakat suku bangsa.

 

Perbedaan Istilah dalam Antropologi :

Sampai saai ini di berberapa Negara masih digunakan beberapa istilah yang berbeda untuk menyatakan antropologi, sehingga perlu dipahami dimana istilah-istilah ini lazim digunakan dan apa arti istilah-istilah tersebut. Adapun istilah yang lebih dikenal adalah: Ethnography, Ethnology, Volkerkunde, Kulturkunde, Anthropology, Cultural Antrhropology dan Social Anthropology.

 

Ethnography berarti pelukisan tentang bangsa-bangsa. Stilah ini dipakai umum di Eropa Barat untuk menyebyut bahan keterangan yang termaktub dalam karangan-karangan tentang masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di luar Eropa, serta segala metode untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan itu.

 

Ethnology, yang berarti ilmu bangsa-bangsa. Istilah ini masih digunakan di Amerika dan Inggris untuk menyebut satu bagian dari Antropologi yang khusus mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah perkembangan manusia.

 

Volkerkunde, (Volkenkunde) berarti Ilmu bangsa-bangsa. Istilah ini tetap digunakan di Negara-negara Eropa Tengah sampai dengan sekarang.

 

Kulturkunde, berarti ilmu kebudayaan. Istilah ini pernah digunakan oleh seorang sarjana antropologi dari Jerman, L.Frobenius, dalam arti yang sama dengan pemakaian ethnografi di Amerika. Istilah ini juga pernah digunakan di Indonesia, yang artinya ilmu kebudayaan.

 

Anthropology, berari berarti ilmu tentang manusia. Sebelumnya istilah ini digunakan untuk menyatakan ilmu yang mempelajari cirri-ciri tubuh manusia. Dalam perkembangan fase ketiga sejarah perkembangan antropologi, istilah ini mulai dikenal terutama di Amerika dan Eropa dalam arti yang sama denga etnologi pada awalnya. Di Inggris istilah atropologi menggantikan istilah etnografi, di Amerika istilah antropologi dipakai dalam pengertian yang sangat luas karena meliputi baik bagian-bagian fisik maupun sosial dari manusia. Di Eropa barat dan Eropa Tengah, istilah Antropologi dipakai dalam arti khusus, yaitu ilmu tentang ras-ras manusia yang dipandang dari cirri-ciri fisiknya.

 

Cultural Antrhropology akhir-akhir ini dipakai di Amerika dan beberapa Negara lain untuk menyebut bagian dari ilmu Antropologi dalam arti luas yang tidak mempelajari manusia dari

sudut fisiknya. Saat ini, istilah ini digunakan secara resmi di Universitas Indonesia, menggantikan istilah ilmu kebudayaan.

 

Social Anthropology. Digunakan di Inggris untuk menyebut antropologi dalam fase ketiganya, sebagai lawan dari etnologi, yang di sana digunakan untuk menyebut antropologi pada fase-fase sebelumnya. Di Amerika, social anthropology dan ethnology merupakan dua sub bagian dalam ilmu antropologi.

 

CABANG – CABANG ANTROPOLOGI :

1. Paleo – Antropologi.

2. Antropologi Fisik.

3. Etnolinguistik.

4. Prehistori.

 5. Etnologi.

 

1. Paleo – Antropologi.

Bagian dari Antropologi yang meneliti asal – usul atau evolusi dan terjadinya

manusia dengan menggunakan sisa – sisa tubuh yang telah membatu (fosil –

fosil manusia purba) dan tersimpan dalam lapisan – lapisan bumi yang harus

didapatkan oleh si peneliti dengan berbagai metode penggalian.

 

2. Antropologi Fisik.

 Bagian dari Antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang

sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari ciri – ciri fisiknya.

 

3. Etnolinguistik. Bagian dari Antropologi yang mempelajari suatu kebudayaan dengan

menitikberatkan pada penelitian tentang kata – kata, ciri dan tata bahasa dari

beratus – ratus bahasa suku bangsa yang tersebar di berbagai tempat di seluruh

dunia.

 

 4. Prehistori.

 Bagian dari Antropologi yang mempelajari sejarah perkembangan dan

penyebaran seluruh kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal

huruf.

 

5. Etnologi.

Bagian dari Ilmu Antropologi yang mencoba mencapai pengertian tentang asas –

asas manusia dengan mempelajari kebudayaan – kebudayaan dalam kehidupan

masyarakat dari sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar di seluruh muka

bumi pada masa sekarang ini.

 

HUBUNGAN ANTARA ANTROPOLOGI SOSIAL DAN SOSIOLOGI

 

1. Persamaan.

Antropologi Sosial dan Sosiologi berusaha untuk mencari

unsur – unsur yang sama di antara beragam masyarakat dan

kebudayaan manusia. Tujuannya adalah untuk mencapai

pengertian tentang asas – asas hidup masyarakat dan

kebudayaan manusia pada umumnya.

2. Perbedaan.

a. Masing – masing memiliki asal – mula dan sejarah perkembangannya yang

berbeda.

b. Asal mula dan sejarah yang berbeda menyebabkan adanya suatu perbedaan

pengkhususan pada pokok dan bahan penelitian dari kedua penelitian tersebut.

 c. Asal mula dan sejarah yang berbeda juga telah menyebabkan berkembangnya

metode dan masalah yang khusus dari masing – masing ilmu.

 

E. HUBUNGAN ANTARA ANTROPOLOGI DAN ILMU – ILMU LAINNYA

1. Geologi.

2. Paleontologi.

3. Anatomi.

4. Kesehatan Masyarakat.

6. Linguistik.

7. Arkeologi.

8. Sejarah dll

 

F. METODE ILMIAH DARI ANTROPOLOGI

 1. Metode Ilmiah dan Pengumpulan Fakta.

Metode ilmiah adalah segala cara yang digunakan dalam suatu disiplin ilmu untuk

mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu

pengetahuan bukanlah suatu ilmu, melainkan suatu himpunan pengetahuan saja,

tentang berbagai gejala alam atau masyarakat, tanpa ada kesadaran tentang

hubungan antara gejala – gejala yang terjadi.

Dalam Antropologi Budaya, tingkat ini adalah pengumpulan data dan fakta

mengenai kejadian dan gejala masyarakat serta kebudayaan untuk pengolahan

secara ilmiah. Pada kenyataannya, aktivitas pengumpulan data dan fakta di sini

terdiri dari berbagai metode untuk mengobservasi, mencatat, mengolah dan

mendeskripsikan fakta – fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup.

Pada umumnya, metode – metode pengumpulan data dan fakta dalam ilmu

pengetahuan dapat digolongkan ke dalam tiga golongan dan masing – masing

mempunyai perbedaan pokok, yaitu:

a. Penelitian / studi lapangan.

b. Penelitian / studi kepustakaan.

 c. Penelitian di laboratorium.

Dalam Antropologi Budaya, penelitian / studi lapangan merupakan cara yang

sangat penting untuk mengumpulkan data – data dan fakta – fakta yang ada, di

samping penelitian / studi kepustakaan. Sedangkan penelitian laboratorium

hampir tidak berarti untuk Antropologi.

2. Penentuan Ciri – ciri Umum dan Sistem.

Hal semacam ini adalah tingkat dalam cara berpikir secara ilmiah yang bertujuan

untuk menentukan ciri – ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang

dikumpulkan dalam suatu penelitian.

 Proses berpikir secara ilmiah pada tahap ini menimbulkan metode – metode yang

hendak mencari ciri – ciri yang sama dan umum, di antara beragam fakta dalam

kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia.

Proses berpikir di sini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang peristiwa

– peristiwa dan fakta – fakta khusus dan konkret ke arah konsep – konsep

mengenai ciri – ciri umum yang lebih abstrak.

Antropologi bekerja dengan bahan berupa fakta – fakta yang berasal dari

sebanyak mungkin masyarakat dan kebudayaan di seluruh dunia untuk mencari

ciri – ciri umum di antara beragam fakta yang ada dalam masyarakat tersebut

dengan menggunakan berbagai metode perbandigan (metode komparatif).


sekian catatan dari saya, terimakasih.

Comments

Post a Comment